Pages

06 March 2014

Ada Rindu Yang Tak Bernama

   Bahwa sesungguhnya cinta itu indah. Bahkan segala sesuatu di sekitarnya pun terasa indah. Namun itu tak semua, dan tak berlangsung lama. Rindu adalah rasa yang timbul karenanya. Tapi bagiku tak semua rindu itu punya nama. Ada rindu yang tak bernama. Pernahkah kamu merindu saat kamu beranjak dewasa dengan cinta?? pasti pernah. Apakah pernah kamu merindu tapi tak tau untuk siapa rindu itu?? aku rasa ini hanya untuk beberapa orang saja. Rindu itu tak harus untuk seseorang, tapi bisa juga untuk benda, peristiwa, tempat dan suasana.
   Rindu dimana dia hadir tanpa ada persiapan, tak mengenal waktu, bahkan tak tau untuk disampaikan kepada siapa rindu itu. Tapi itu sederhana. Sebenarnya masalah rasa itu sederhana, terkadang justru kita sendiri yang mempersulitnya.
   Aku rindu tapi tak pernah mau mengungkapkan. Aku mengharap sebuah temu tapi tak pernah mau mendahulu. Aku belum pernah mencicipi rindu yang semacam ini. Mungkin kamu lebih ahli. Bolehkan aku minta diajari? bagaimana cara nya untuk merasa lebih baik meski tanpa sebuah temu. Cara untuk membuat segalanya terasa baik-baik saja tanpa pernah kau mengungkapkannya.

   Kalau ingatan mu belum pudar, tepat di sebuah malam di pergantian tahun lalu, kita mengakhiri dan mengawali perpindahan itu dengan doa, tapi kita berbeda. Kita tak bersama. Kau ada di tempat lain. Tanpa aku di sana. Hanya ada objek yang enggan aku untuk menyebutnya.
Aku pernah berharap ingin menjadikan mu rumah, bukan tempat singgah. Aku ingin kepada mu lah tempat ku kembali pulang. Kamu mengamankan, menyamankan, dan menyenangkan. Kamu adalah alasan dibalik segala kerinduanku.

   Terlalu berlebihan kah jika aku mengatakan bahagiaku itu kamu? terlalu egoiskah jika aku hanya ingin kamu bersamaku, bukan yang lain?
Jika aku boleh bertanya, apakah aku ini?
Tidak, mungkin aku hanyalah tempat singgahmu.
Iya, hanya itu.


   Karena aku terlalu takut, bukan hanya aku saja yang mencicipi manis yang kau ciptakan. Karena aku terlalu takut untuk terburu-buru menetapkan hati pada yang sebenarnya menganggapku dengan setengah hati. Lupakan saja apa yang pernah kuberi atau apa yang pernah kuperbuat. Kecuali doa yang pernah kupanjatkan untuk mu, jangan lupa di amini. 

   Aku harus belajar berjuang menemukan bahagiaku sendiri, bukan berdiam diri pada luka yang akhirnya masih entah bagaimana. Kini mendapatkanmu bukan hanya tak bisa, namun juga tak boleh. Tak mungkin aku merusak senyuman yang beralasan cinta. Tidak mungkin aku menunggu tanpa berbuat apa-apa. Maka, pertahankan saja senyum kalian pada foto itu. Aku akan belajar mencari cara menyertakan milikku sendiri.

Sebelum peristiwa manis itu dimulai sepekan lalu, aku tahu hari itu akan cepat berlalu. Maka aku merekam segalanya dalam ingatan. Sebut saja ini firasat, sebelum perpisahan bergerak lebih cepat. Aku tak mengerti  alam dengan segala permainannya. Aku lebih tak mengerti kamu dengan perhatian sementaranya.

   Mungkin ini maksudnya, memberi firasat, supaya aku mampu melepasmu yang bukan lagi untuk sesaat? Apa ini alasan di balik segala kedekatan? Agar aku menyadari bahwa yang sudah lama akrab, belum tentu bagian dari sebuah jawab?

 

   Ketukan mu membuat percayaku membukakan pintu hati. Namun setelah seisi ruang kau ambil alih, porak porandalah hati karna semudah itu kau pergi.

No comments:

Post a Comment