Pages

05 March 2014

Tentang Rasa

Berapa lama kamu bisa mengartikan sebuah rasa terhadap seseorang? bahkan sampai sekarang pun aku masih belum bisa mengartikan rasa macam apa yang ada dalam dada ku ini. Aku tau, ini menyenangkan, Tapi aku juga sadar kadang ini cukup menyakitkan. Entah aku, kamu, atau keadaan yang salah. Sejak perkenalan saat itu, tak ada sedikitpun di benak ku terbayang hal2 yang bisa membuat ku jatuh terlalu dalam semacam ini. Memang aku pernah terjatuh, tapi tak sedalam ini. Aku pernah sakit, tapi tak sesakit ini. Ratusan hari sudah aku lewati, dan diantaranya hanya kesakitan yang tetap ku pertahanan dari hari ke hari. Tanpa aku meminta kamu untuk menjadi orang lain. Aku suka kamu yang seperti itu. Aku menyukai mu mulai dari apa pun yang aku lihat di awal pertemuan. Bahkan hal-hal kecil dalam pertemuan lalu masih jelas terekam di otak ku. Aku tak sepenuhnya menyalahkan mu atas keadaan ini. Karna memang ini bukan salahmu. Kita adalah manusia-manusia yang dipertemukan oleh sepi. Aku mencari mu dan kamu mencariku. Kita sama-sama mecari tapi tak pernah dipertemukan dalam kepastian.
   Kamu tau? Dulu aku menghargai mu, sekarang pun masih. Dan akan tetap begitu.
Bahkan dulu kamu ada dalam doa ku, dulu sebelum aku merasa sakit yang begitu. Sekarang, hanya sesekali saat aku benar2 merindukan mu, aku menyebutmu dalam doa ku agar kita dipertemukan dengan cara yg berbeda. Dengan cara yang lebih terhormat, dengan cara yang lebih nyata, dan dengan cara yang lebih baik. Mungkin ini hanya ilusi sementara. Dan entah siapa korbannya. Aku tak pernah menyesali pertemuan ini, aku tak pernah menyesal dengan perkenalan ini.
   Sebenarnya aku selalu menyambut mu, menyambutmu saat kamu datang menemuiku. Tapi ada sesuatu yang membuat ku menjadi beda saat melihatmu. Aku pernah berpikir untuk keluar dari zona mu. Aku tak ingin di anggap sebagai gulma. Aku tak ingin disalahkan atas apa yang mungkin akan terjadi suatu hari nanti. Tapi aku tak pernah enggan memberi mu maaf dan sebuah tempat. Sebuah tempat dimana itu pernah aku khususkan untuk kau huni sepenuhnya. Meski aku tau, dengan sadar aku menghuni tempat yang tak sepenuhnya menjadi hunianku. Dan sekarang aku tersingkir, aku terbuang, seperti pecahan-pecahan kaca yang tersebar kemana-mana. Aku tak bisa bersatu lagi. Bahkan ada dari bagianku yang menghilang.
   Kamu tau? tidak semua orang siap dengan pengakuan. Tapi aku siap, bahkan aku selalu meminta mu untuk tetap mengatakan pengakuan semacam apapun.
Sering kali aku menyebutmu dalam setiap percakapan ku dengan hati. Aku membanggakan mu disana, hingga ia tag pernah ragu memberi mu tempat. Aku sering bertentangan dengan pikiran, aku sering mengabaikan apa yg ada di sana, hanya karna aku tak ingin menentang hati. Aku tak ingin kau terusir dari nya. Aku ingin kau tetap ada di sana..
Tapi itu dulu, dan rasanya sudah hampir 2 bulan aku membiarkan otak ku menguasai segalanya. Termasuk hati. Aku persilahkan ia menentang hati. Aku sudah tak peduli. Aku menyerah, aku tau hanya sampai disini kemampuanku untuk bertahan. Aku biarkan hati ini terbuka, biar saja ada yang mau menghuni. Tempat ini sudah pernah tertata rapi untuk mu, tapi nyatanya kau tetap kembali ke tempat asalmu. Aku tak apa. Aku benar-benar tak apa. Aku baik-baik saja. Aku hanya harus berusaha membanggakan penghuni baru nya. Sama seperti yang pernah ku lakukan untuk mu. Aku percaya waktu akan membantuku. Dan sedikitpun aku tak pernah membencimu atas ini semua. Aku tak pernah menyalahkan mu. Mungkin rasa ini yang salah.
   Tanpamu, ada hal-hal sederhana yang kini baru kusadari terasa begitu istimewa. Aku sudah terbiasa dengan serangkaian hari kita yang penuh dengan peristiwa-peristiwa manis. Dari bertukar selamat pagi dan selamat malam sebagai pengawal dan batas usainya hari. Bertukar penyemangat. Hingga berlomba menjadi yang lebih rindu. Meski kadang kau selalu jadi pemenang untuk mengungkapkan rindu. Sungguh, aku sudah terlalu terbiasa. Dan tanpamu, yang kurasa hanya kurang. Tanpamu, aku merasa bahwa aku tak pernah berhasil mengikat cinta.
   Benar kan?? Aku memang tak berhasil mengikatnya. Tapi aku punya harapan semoga ini yang terakhir. Aku tak ingin lagi. Benar-benar tak ingin mengulanginya lagi. Aku tau perpisahan akan tetap terjadi. Aku ingat saat kamu meminta ku untuk memberi senyuman agar perpisahan jadi lebih bermakna. Tapi aku gagal, aku tak bisa bersembunyi di balik senyum yang kau minta. Aku sadar tak ada yang bisa mencegah datang nya perpisahan. Kalau pun bisa, aku ingin tetap tinggal, aku ingin tetap bersama, karna aku tau perpisahan itu menjauhkan. Hanya definisi orang saja yang berbeda. Semanis apapun, sebaik apapun bentuknya, perpisahan hanya akan mengasingkan kita. Aku tak ingin terasing dari mu, dan aku tak ingin mengasingkan mu dariku. Untuk berdamai dengan kenyataan dan mengalah dengan penyangkalan, sungguh aku perlu waktu. Tapi setidaknya aku telah berani merelakan agar hati tak dibuat berkeping lagi.
Berbahagialah.. Ini bukan ritual kata yang kuucapkan sebagai salam perpisahan agar terlihat sempurna. Tapi sungguh, aku ingin kamu bahagia. Karena pernah aku melihatmu tersenyum manis, tertawa lepas, dan dari sana lah aku bisa melihat kebahagiaan dari orang lain. Aku akan segera menyembuhkan hati, aku akan menemukan bahagiaku sendiri.
   Tahukah kamu hal-hal kecil yang km lakukan selalu menjadi pusat perhatian bagi hati dan pikiranku? Semua tentangmu bagiku begitu penting, sampai2 tak ingin melewatkannya. Sepatu putiih, celana jeans putih, kaos putih yang kau tutup dengan jaket, jam dan tas, serta topi hitam yang kau kenakan di pertemuan sekaligus kencan pertama yang tak disengaja itu. Aku masih ingat betul kapan pertama kali kau menggandeng tangan ku. Celana jeans biru dan jamper coklat yang kamu pakai di kencan kedua. Kapan dan dimana pertama kali aku bersandar di pundakmu, hari dimana aku dengan jelas merasakan denyut jantung mu. Banyak lagi, dan masih banyak lagi yang terekam jelas di kepala ku. Dan satu yang mungkin kamu belum tau, kamu pernah menjadi pria kesayangan ku setelah ayah dan adikku.
   Untuk yang merasakannya..  
Pernahkah kamu dikecewakan? Berapa kali kamu dikecewakan oleh putaran waktu? Sesering apa kamu mengerti betul tentang beratnya melepaskan? Tentang perjuangan merelakan? Memiliki yang justru akhirnya berusaha melepaskan diri, berharap pada yang mengharapkan orang lain, memberikan bahagia kepada yang telah membuatmu ber airmata, menggugurkan ingatan tentang seseorang yang tak bisa kau lupakan, berjarak dengan dia yang kau cinta, dijadikan yang terakhir oleh yang selalu kau prioritaskan bahagianya, menjadi kuat disaat seisi dunia berusaha melemahkanmu, disodori segitiga yang membentukmu dia dan yang dicintainya.
Sakit tak ? sudah berapa lama kamu bertahan untuk meyakinkan kepalamu bahwa harapan sedang berputar? memang iya tak ada yang mustahil di dunia ini, memang benar kita tak boleh takut mencoba, tapi bukan berarti harus dengan mempertaruhkan hatimu. Selain dengan menerima realita, mungkin kamu juga perlu membuka mata. :)

No comments:

Post a Comment