Kamu tau? Dulu aku menghargai mu, sekarang pun masih. Dan akan tetap begitu.
Bahkan
dulu kamu ada dalam doa ku, dulu sebelum aku merasa sakit yang begitu.
Sekarang, hanya sesekali saat aku benar2 merindukan mu, aku menyebutmu
dalam doa ku agar kita dipertemukan dengan cara yg berbeda. Dengan cara
yang lebih terhormat, dengan cara yang lebih nyata, dan dengan cara yang
lebih baik. Mungkin ini hanya ilusi sementara. Dan entah siapa
korbannya. Aku tak pernah menyesali pertemuan ini, aku tak pernah
menyesal dengan perkenalan ini.
Sebenarnya aku selalu menyambut mu, menyambutmu saat kamu datang
menemuiku. Tapi ada sesuatu yang membuat ku menjadi beda saat melihatmu.
Aku pernah berpikir untuk keluar dari zona mu. Aku tak ingin di anggap
sebagai gulma. Aku tak ingin disalahkan atas apa yang mungkin akan
terjadi suatu hari nanti. Tapi aku tak pernah enggan memberi mu maaf dan
sebuah tempat. Sebuah tempat dimana itu pernah aku khususkan untuk kau
huni sepenuhnya. Meski aku tau, dengan sadar aku menghuni tempat yang
tak sepenuhnya menjadi hunianku. Dan sekarang aku tersingkir, aku
terbuang, seperti pecahan-pecahan kaca yang tersebar kemana-mana. Aku
tak bisa bersatu lagi. Bahkan ada dari bagianku yang menghilang.
Kamu tau? tidak semua orang siap dengan pengakuan. Tapi aku siap,
bahkan aku selalu meminta mu untuk tetap mengatakan pengakuan semacam
apapun.
Sering kali aku
menyebutmu dalam setiap percakapan ku dengan hati. Aku membanggakan mu
disana, hingga ia tag pernah ragu memberi mu tempat. Aku sering
bertentangan dengan pikiran, aku sering mengabaikan apa yg ada di sana,
hanya karna aku tak ingin menentang hati. Aku tak ingin kau terusir dari
nya. Aku ingin kau tetap ada di sana..
Tapi
itu dulu, dan rasanya sudah hampir 2 bulan aku membiarkan otak ku
menguasai segalanya. Termasuk hati. Aku persilahkan ia menentang hati.
Aku sudah tak peduli. Aku menyerah, aku tau hanya sampai disini
kemampuanku untuk bertahan. Aku biarkan hati ini terbuka, biar saja ada
yang mau menghuni. Tempat ini sudah pernah tertata rapi untuk mu, tapi
nyatanya kau tetap kembali ke tempat asalmu. Aku tak apa. Aku
benar-benar tak apa. Aku baik-baik saja. Aku hanya harus berusaha
membanggakan penghuni baru nya. Sama seperti yang pernah ku lakukan
untuk mu. Aku percaya waktu akan membantuku. Dan sedikitpun aku tak
pernah membencimu atas ini semua. Aku tak pernah menyalahkan mu. Mungkin
rasa ini yang salah.
Tanpamu, ada hal-hal sederhana yang kini baru kusadari terasa begitu
istimewa. Aku sudah terbiasa dengan serangkaian hari kita yang penuh
dengan peristiwa-peristiwa manis. Dari bertukar selamat pagi dan selamat
malam sebagai pengawal dan batas usainya hari. Bertukar penyemangat. Hingga berlomba menjadi yang
lebih rindu. Meski kadang kau selalu jadi pemenang untuk mengungkapkan rindu. Sungguh,
aku sudah terlalu terbiasa. Dan tanpamu, yang kurasa hanya kurang.
Tanpamu, aku merasa bahwa aku tak pernah
berhasil mengikat cinta.
Benar kan?? Aku memang tak berhasil mengikatnya. Tapi aku punya harapan semoga ini yang terakhir. Aku tak ingin lagi. Benar-benar tak ingin mengulanginya lagi. Aku tau perpisahan akan tetap terjadi. Aku ingat saat kamu meminta ku untuk memberi senyuman agar perpisahan jadi lebih bermakna. Tapi aku gagal, aku tak bisa bersembunyi di balik senyum yang kau minta. Aku sadar tak ada yang bisa mencegah datang nya perpisahan. Kalau pun bisa, aku ingin tetap tinggal, aku ingin tetap bersama, karna aku tau perpisahan itu menjauhkan. Hanya definisi orang saja yang berbeda. Semanis apapun, sebaik apapun bentuknya, perpisahan hanya akan mengasingkan kita. Aku tak ingin terasing dari mu, dan aku tak ingin mengasingkan mu dariku. Untuk berdamai dengan kenyataan dan mengalah dengan penyangkalan, sungguh aku perlu waktu. Tapi setidaknya aku telah berani merelakan agar hati tak dibuat berkeping lagi.
Berbahagialah.. Ini bukan ritual kata yang kuucapkan sebagai salam perpisahan agar terlihat sempurna. Tapi sungguh, aku ingin kamu bahagia. Karena pernah aku melihatmu tersenyum manis, tertawa lepas, dan dari sana lah aku bisa melihat kebahagiaan dari orang lain. Aku akan segera menyembuhkan hati, aku akan menemukan bahagiaku sendiri.
Tahukah kamu hal-hal kecil yang km lakukan selalu menjadi pusat perhatian bagi hati dan pikiranku? Semua tentangmu bagiku begitu penting, sampai2 tak ingin melewatkannya. Sepatu putiih, celana jeans putih, kaos putih yang kau tutup dengan jaket, jam dan tas, serta topi hitam yang kau kenakan di pertemuan sekaligus kencan pertama yang tak disengaja itu. Aku masih ingat betul kapan pertama kali kau menggandeng tangan ku. Celana jeans biru dan jamper coklat yang kamu pakai di kencan kedua. Kapan dan dimana pertama kali aku bersandar di pundakmu, hari dimana aku dengan jelas merasakan denyut jantung mu. Banyak lagi, dan masih banyak lagi yang terekam jelas di kepala ku. Dan satu yang mungkin kamu belum tau, kamu pernah menjadi pria kesayangan ku setelah ayah dan adikku.
Untuk yang merasakannya..
Pernahkah kamu dikecewakan? Berapa kali kamu dikecewakan oleh putaran waktu? Sesering apa kamu mengerti betul tentang beratnya melepaskan? Tentang perjuangan merelakan? Memiliki yang justru akhirnya berusaha melepaskan diri, berharap pada yang mengharapkan orang lain, memberikan bahagia kepada yang telah membuatmu ber airmata, menggugurkan ingatan tentang seseorang yang tak bisa kau lupakan, berjarak dengan dia yang kau cinta, dijadikan yang terakhir oleh yang selalu kau prioritaskan bahagianya, menjadi kuat disaat seisi dunia berusaha melemahkanmu, disodori segitiga yang membentukmu dia dan yang dicintainya.
Sakit tak ? sudah berapa lama kamu bertahan untuk meyakinkan kepalamu bahwa harapan sedang berputar? memang iya tak ada yang mustahil di dunia ini, memang benar kita tak boleh takut mencoba, tapi bukan berarti harus dengan mempertaruhkan hatimu. Selain dengan menerima realita, mungkin kamu juga perlu membuka mata. :)
Benar kan?? Aku memang tak berhasil mengikatnya. Tapi aku punya harapan semoga ini yang terakhir. Aku tak ingin lagi. Benar-benar tak ingin mengulanginya lagi. Aku tau perpisahan akan tetap terjadi. Aku ingat saat kamu meminta ku untuk memberi senyuman agar perpisahan jadi lebih bermakna. Tapi aku gagal, aku tak bisa bersembunyi di balik senyum yang kau minta. Aku sadar tak ada yang bisa mencegah datang nya perpisahan. Kalau pun bisa, aku ingin tetap tinggal, aku ingin tetap bersama, karna aku tau perpisahan itu menjauhkan. Hanya definisi orang saja yang berbeda. Semanis apapun, sebaik apapun bentuknya, perpisahan hanya akan mengasingkan kita. Aku tak ingin terasing dari mu, dan aku tak ingin mengasingkan mu dariku. Untuk berdamai dengan kenyataan dan mengalah dengan penyangkalan, sungguh aku perlu waktu. Tapi setidaknya aku telah berani merelakan agar hati tak dibuat berkeping lagi.
Berbahagialah.. Ini bukan ritual kata yang kuucapkan sebagai salam perpisahan agar terlihat sempurna. Tapi sungguh, aku ingin kamu bahagia. Karena pernah aku melihatmu tersenyum manis, tertawa lepas, dan dari sana lah aku bisa melihat kebahagiaan dari orang lain. Aku akan segera menyembuhkan hati, aku akan menemukan bahagiaku sendiri.
Tahukah kamu hal-hal kecil yang km lakukan selalu menjadi pusat perhatian bagi hati dan pikiranku? Semua tentangmu bagiku begitu penting, sampai2 tak ingin melewatkannya. Sepatu putiih, celana jeans putih, kaos putih yang kau tutup dengan jaket, jam dan tas, serta topi hitam yang kau kenakan di pertemuan sekaligus kencan pertama yang tak disengaja itu. Aku masih ingat betul kapan pertama kali kau menggandeng tangan ku. Celana jeans biru dan jamper coklat yang kamu pakai di kencan kedua. Kapan dan dimana pertama kali aku bersandar di pundakmu, hari dimana aku dengan jelas merasakan denyut jantung mu. Banyak lagi, dan masih banyak lagi yang terekam jelas di kepala ku. Dan satu yang mungkin kamu belum tau, kamu pernah menjadi pria kesayangan ku setelah ayah dan adikku.
Untuk yang merasakannya..
Pernahkah kamu dikecewakan? Berapa kali kamu dikecewakan oleh putaran waktu? Sesering apa kamu mengerti betul tentang beratnya melepaskan? Tentang perjuangan merelakan? Memiliki yang justru akhirnya berusaha melepaskan diri, berharap pada yang mengharapkan orang lain, memberikan bahagia kepada yang telah membuatmu ber airmata, menggugurkan ingatan tentang seseorang yang tak bisa kau lupakan, berjarak dengan dia yang kau cinta, dijadikan yang terakhir oleh yang selalu kau prioritaskan bahagianya, menjadi kuat disaat seisi dunia berusaha melemahkanmu, disodori segitiga yang membentukmu dia dan yang dicintainya.
Sakit tak ? sudah berapa lama kamu bertahan untuk meyakinkan kepalamu bahwa harapan sedang berputar? memang iya tak ada yang mustahil di dunia ini, memang benar kita tak boleh takut mencoba, tapi bukan berarti harus dengan mempertaruhkan hatimu. Selain dengan menerima realita, mungkin kamu juga perlu membuka mata. :)
No comments:
Post a Comment